RSS
Write some words about you and your blog here

Ningsih Makan 10 Jari Tangan Sendiri hingga Habis

Selasa, 21 Juli 2009 | 14:55 WIB

SITUBONDO, KOMPAS.com — Ningsih (19), gadis yang baru menginjak dewasa, tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya, memakan tangannya sendiri. Kini, 10 jari tangannya telah habis disantap setiap hari.

Kebiasaan aneh putri pertama pasangan suami-istri Munasib (40) dan Ernanik (35), warga Desa Gumuk, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, ini telah dilakukan sejak berusia 10 tahun. Perbuatan itu tidak bisa dicegah orangtuanya.

“Karena takut lengannya akan bernasib sama dengan jarinya, terpaksa lengannya saya balut dengan kain tebal,” ujar Bunira (60), nenek Ningsih saat ditemui Surya di rumahnya, Senin (20/7). Menurut Bunira, ia sudah melakukan berbagai cara untuk mengobati kebiasaan cucunya itu, tetapi semuanya tidak membuahkan hasil.

“Setiap kali saya membawa berobat, maka ia semakin rakus untuk memakan daging tangannya itu,” kata wanita yang merawatnya sejak kecil ini. Anehnya, kata Bunira, pada saat menggerogoti daging lengannya, Ningsih tidak merasa kesakitan, tetapi tertawa kegirangan.

Ahmadi (50), salah seorang tetangganya, mengatakan, sebenarnya dua tahun lalu, penyakit Ningsih itu pernah menjadi perhatian serta ditangani tim medis RSUD Situbondo dan RS Soebandi Jember. “Kebiasaannya ini tidak bisa dihilangkan dan diobati karena ini akibat keterbelakangan mental yang dideritanya,” tutur Ahmadi.

Sebab, sebelumnya, dia tidak pernah menggigit jarinya,” tuturnya. Menurut dokter setempat, kebiasaan memakan daging jari tangan itu akibat gangguan syaraf otak yang diperparah dengan kondisi korban yang mengidap keterbelakangan mental. Kebiasaan itu merupakan faktor genetik yang terganggu di dalam tubuhnya sehingga korban tidak merasakan sakit meskipun jarinya di gigit hingga dagingnya mengelupas.

Perlu diteliti

Dokter ahli kejiwaan RSU Dr Soetomo Surabaya, Dr Nalini Muhdi Agung, Sp KJ, menyebut kondisi yang terjadi pada Ningsih bisa saja tergolong gangguan kejiwaan. Gangguan seperti itu bisa digolongkan sebagai self harm behavior atau kecenderungan merusak diri sendiri. “Gangguan seperti ini bisa terjadi karena depresi, kecemasan, atau gangguan lain. Bentuknya juga beragam bisa menggigit jari, menjilat, atau yang lain,” ujar Nalini. Meski demikian, ia menyatakan, untuk memastikan kondisi itu perlu dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Harus diteliti secara seksama apakah ada gangguan lain.

Sementara itu, ahli bedah plastik RSU Dr Soetomo, Prof Dr David S Perdanakusuma, SpBP, menyatakan, banyak penyakit yang bisa menyebabkan kondisi di mana jaringan bisa rusak atau terlepas dari tubuh. “Bisa karena infeksi akibat gigitan atau bisa juga karena penyebab lain, seperti karena penyakit kronis. Dalam kasus penyakit Ningsih, perlu melibatkan banyak disiplin ilmu untuk memastikannya, terlebih jika penderita diketahui ada gangguan kejiwaan,” ujar David. st6/rey


sumber: http://regional.kompas.com/read/xml/2009/07/21/14551441/Ningsih.Makan.Jari.Tangan.Sendiri.Hingga.Habis

Greenpeace: Stop PLTN, Tingkatkan Energi Terbarukan

JAKARTA, KOMPAS.com - Tenaga nuklir yang kerap dipakai sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) disalahpersepsikan sebagai solusi untuk perubahan iklim. Padahal ada energi terbarukan yang sangat aman dan bersih seperti sinar matahari, panas bumi, angin dan mikrohidro. Dan Indonesia baru memanfaatkan energi terbarukan ini kurang dari 5 persen.

"Lalu kenapa masih berupaya mendirikan PLTN," kata Tessa de Ryck, Juru Kampanye Nuklir Greenpeace Regional Asia Tenggara saat peluncuran Komik Nuclear Meltdown Pesan dari Kegelapan di Jakarta, Minggu (21/6).

Menurut de Ryck, satu PLTN menghasilkan limbah nuklir dengan kadar radioaktif tinggi 20 hingga 30 ton per tahun. Parahnya, sampai sekarang tidak ada cara aman untuk menyimpan limbah nuklir, sehingga limbah nuklir bertumpuk. Di seluruh dunia diperkirakan ada 250.000 ton limbah nuklir.

Lebih lanjut ia mengatakan, kalau radiasi nuklir bocor dari PLTN maka akan meradiasi sel-sel tubuh sehingga mengakibatkan kanker kelenjar, kelainan saat bayi dilahirkan, kemandulan, leukimia, mutasi gen, kardiovaskular. Pada dasarnya, ia menambahkan, tidak ada reaktor nuklir yang benar-benar aman. Semua reaktor operasional memiliki kelemahan pada sistem keselamatan dasar yang tidak dapat dihilangkan begitu saja meskipun dengan meningkatkan tingkat keamanan.

Selain itu, de Ryck memaparkan deretan kelemahan PLTN. Menurutnya sampai saat ini tidak ada solusi untuk limbah nuklir, membangun PLTN mahal mencapai 5 miliar dollar AS, jika terjadi kecelakaan akibatnya fatal, teknologi nuklir terlalu kompleks dan hanya dikuasai beberapa negara (AS, Rusia, Perancis, Jepang, Korsel dan Kanada), cadangan uranium sebagai bahan PLTN hanya terdapat di negara tertentu (Kanada, Australia, Nigeria, Kazakstan, Usbekistan), dan nuklir tidak bisa membantu perubahan iklim.

"Oleh karena itu lebih baik menggunakan sumber energi terbarukan yang aman, bersih dan jauh lebih murah. Dan yang terpenting, sumbernya ada banyak di Indonesia," ungkapnya. Namun demikian, de Ryck tidak memungkiri pemerintah melalui Badan Tenaga Atom Indonesia (BATAN) terus bergiat dengan risetnya di 3 reaktor riset nuklir.

"Mengatakan sudah berhasil meriset pada reaktor riset lalu berhasil pula pada saat PLTN dibangun, sama saja mengatakan saya bisa menjahit luka maka saya bisa mengoperasi jantung, sekalipun reaktor risetnya sebesar di Serpong," papar de Ryck, saat mengomentari para peneliti BATAN yang terus bekerja mempersiapkan PLTN.

Melihat terlalu berbahayanya PLTN dan ada begitu banyak sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia, Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia untuk meningkatkan target energi terbarukan sekaligus meningkatkan kualitas hukum dan peraturan yang selama ini menjadi batu sandungan terbesar dalam investasi di bidang energi terbarukan.

"Meningkatkan investasi bahan bakar fosil dan nuklir untuk dialihkan pada panas bumi, angin, dan matahari tidak hanya merupakan pilihan pintar untuk mengurangi emisi, tetapi juga pilihan ekonomi yang pintar," pungkas de Ryck.


sumber: kompas.com

apakah Tuhan mahakuasa?

Q: Dapatkah Tuhan menciptakan sebuah batu yang sangat besar sehingga Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya?

A :1. Pencipta tidaklah harus lebih besar dari ciptaannya. Manusia menciptakan mobil, bahkan armada yang bisa mengangkut ribuan orang, bukankah itu menunjukkan bahwa sesuatu bisa membuat dan menggerakkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
2. Pencipta tidaklah harus lebih pintar dari ciptaannya. Berbagai macam alat bantu yang sangat pintar sudah dibuat manusia bukan?.
Disini saya mau mengatakan bahwa Tuhan tidaklah harus lebih besar dari alam semesta untuk membuatnya dinamis.

Q: Kalau begitu, Dia yang disebut sebagai Pencipta hanyalah makhluk kecil biasa seperti kita donk??? yang bukan MAHA KUASA????? Apakah itu bukan berarti "menghina Tuhan" yang seharusnya sudah tidak memiliki sifat seperti manusia lagi??? Bukankah Tuhan lebih tinggi dari manusia? Jd sudah sepantasnya Tuhan tidak memiliki sifat seperti manusia.

Hayo. adakah yang mau komentar???? Tulisan terakhir adalah tulisan saya sendiri. Sedangkan bagian atasnya merupakan kutipan dari komentar di suatu artikel. alamatnya:: http://blog.dhani.org/2005/04/teori-segala-sesuatu/

Bulan Ternyata Makin Menjauh...

KOMPAS.com-Pada suatu masa—jutaan tahun ke depan—keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang.

Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.

Bukan tanpa alasan Neil Armstrong—manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan—meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.

Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.

Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.

Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).

Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.

Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?

Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.

Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun.

Stabilitas iklim


Fakta menjauhnya orbit bulan ini menjadi ancaman tidak hanya populasi manusia, tetapi juga kehidupan makhluk hidup di bumi. Pergerakan bulan, seperti diungkapkan Dr Jacques Laskar, astronom dari Paris Observatory, berperan penting menjaga stabilitas iklim dan suhu di bumi.

”Bulan adalah regulator iklim bumi. Gaya gravitasinya menjaga bumi tetap berevolusi mengelilingi matahari dengan sumbu rotasi 23 derajat. Jika gaya ini tidak ada, suhu dan iklim bumi akan kacau balau. Gurun Sahara bisa jadi lautan es, sementara Antartika menjadi gurun pasir,” ucapnya kepada Science Channel.

Sejumlah penelitian menyebutkan, pergerakan bulan juga berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup. Terumbu karang, misalnya, biasa berkembang biak, mengeluarkan spora, ketika air pasang yang disebabkan bulan purnama tiba.

Bulan penuh juga dipercaya meningkatkan perilaku agresif manusia. Di Los Angeles, AS, kepolisian wilayah setempat biasanya akan lebih waspada terhadap peningkatan aktivitas kriminal saat purnama.

Menjauhnya bulan dari bumi diyakini ahli geologis juga berpengaruh terhadap aktivitas lempeng bumi. Beberapa ahli telah lama menghubungkan kejadian sejumlah gempa dengan aktivitas bulan. ”Kekuatan yang sama yang menyebabkan laut pasang ikut memicu terangkatnya kerak bumi,” ucap Geoff Chester, astronom yang bekerja di Pusat Pengamatan Angkatan Laut AS, seperti dikutip dari National Geographic.

Beberapa kejadian gempa besar di Tanah Air yang pernah tercatat diketahui juga terkait dengan pergerakan bulan. Gempa-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (2004), Nabire (2004), Simeuleu (2005), dan Nias (2005) terjadi saat purnama. Gempa Mentawai (2005) dan Yogyakarta (2005) terjadi pada saat bulan baru dan posisi bulan di selatan.

Misi terbaru NASA


Kini, bulan sebagai tetangga terdekat bumi kembali menjadi perhatian riset astronomi di dunia. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada Jumat (19/6) meluncurkan wahana LCRoS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) di Cape Canaveral, AS. Wahana ini adalah bagian dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yaitu persiapan program mengembalikan astronot ke bulan tahun 2020 setelah terakhir dilakukan pada 1969-1972 (Reuters, 18/6).

Sasaran utama misi LCRoS untuk memastikan ada tidaknya air beku yang dipercaya berada di kawasan kawah gelap dekat kutub bulan. Dibantu dengan LRO yang memetakan permukaan di bulan secara detail, kedua misi baru ini mengisyaratkan hal besar: menancapkan tonggak baru soal kemungkinan membangun koloni di luar bumi!

Namun, dengan penuh kerendahan hati, Craig Tooley, LRO Project Manager, mengatakan, ”Pengetahuan kita tentang bulan secara keseluruhan saat ini masih minim. Kita punya peta lebih baik tentang Mars, tetapi tidak untuk bulan kita sendiri.”



sumber: kompas.com

ga jelas.......

Ketika bangun tidur, kadang kita berharap hari ini tidak akan ada....

Kita berharap melewati hari ini dengan cepat....

Kita menganggap waktu berjalan linear, dan seperti lompatan quantum....

Tapi, sadarkah kita bahwa waktu tidak bisa disikapi dengan cara seperti itu?
Sadarkah kita jika yang kita lakukan sama saja dengan tidak menghargai hidup?
Sadarkah kita jika kita hidup di dunia ini tidak akan selamanya?
Tidak akan abadi?
Mengapa kita tidak menghargai waktu yang sangat singkat ini?
Siapa yang salah? Orang lain? Ataukah kita sendiri yang salah....

Apakah kita akan berdiam diri saja?
Tidak melakukan apa-apa?
Melakukan sesuatu yang tidak berguna?
Ataukah kita melakukan sesuatu yang tidak sempurna?

Tidak ada yang tahu tentang kepingan-kepingan waktu....

Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita hidup....

Gunakan hari ini dengan baik....

Isilah dengan sempurna....

Jangan pernah anggap hari ini tidak berguna sehingga kita bisa bermalas-malasan....

Anggap hari ini adalah hari yang terakhir untuk kita ada di sini....

Hari terakhir kita untuk melakukan tindakan yang harus benar-benar SEMPURNA....

Jadikan hari ini adalah hari yang paling berharga untuk hidup kita....

Jadikan hari ini yang paling berharga agar kita dapat menghargai hidup....

Agar kita tahu, mengapa kita ada di sini....

Hidup di sini....

Mengapa kita tidak jadi penonton saja akan ruang-waktu ini....

Mengapa kita tidak menganggap ruang-waktu ini seperti aquarium yang berisi ikan dan tumbuhan air, lalu kita duduk di kursi memandangi ikan-ikan tersebut?

Kenapa kita justru berada di dalam aquarium tersebut.
Sebagai PELAKU. Bukan sebagai PENONTON....

Karena pelaku tidak akan tahu hasil akhir dari suatu tindakan....

Pelaku melakukan tindakan. Walapun spekulatif dan beresiko, tetapi tidak tahu hasil akhir yang pasti dari tindakan tersebut....

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya....

Hanya bisa berusaha untuk melakukan yang terbaik....

Penonton tidak seperti itu.
Penonton hanya bisa melihat awal, proses, dan hasil akhir.
Tetapi tidak pernah merasakan hasil yang telah dilakukan....

Pencarian Cinta

Jika engkau mencintai seseorang, jangan berharap bahwa orang itu akan mencintaimu persis sebaliknya dalam kapasitas yang sama.
Satu diantara kalian akan memberikan lebih, yang lain akan merasa kurang...

Begitu juga dalam cinta: engkau yang mencari dan yang lain akan menanti.
Jangan pernah takut untuk jatuh cinta, mungkin akan begitu menyakitkan dan mungkin akan menyebabkan engkau sakit dan menderita, tapi jika engkau tidak mengikuti kata hati, pada akhirnya engkau akan menangis.
Jauh lebih pedih karena saat itu engkau sadar bahwa engkau tidak pernah memberi....

Cinta itu sebuah jalan.
Ia bukan sekedar perasaan, tapi sebuah komitmen...

Perasaan bisa datang dan pergi begitu saja.
Cinta tak harus berakhir bahagia, karena cinta tidak akan berakhir...

Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan dan mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab cinta tak datang dari bibir, lidah, atau pikiran,
Melainkan dari HATI...

Ketika engkau mencintai, jangan mengharapkan apapun sebagai imbalan, karena jika engkau demikian, engkau bukan mencintai, melainkan investasi.
Jika engkau mencintai, engkau harus siap menerima penderitaan karena jika engkau mengharap kebahagiaan, engkau bukan mencintai, melainkan MEMANFAATKAN.
Lebih baik kehilangan harga diri dan egomu bersama seseorang yang engkau cintai daripada kehilangan seseorang yang kau ncintai karena egomu yang tak berguna itu...

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti, cintailah mereka seperti sungai yang selalu mengalir...

Cinta mungkin akan meninggalkan hatimu bagaikan kepingan-kepingan kaca, namun tancapkan dalam pikiranmu bahwa ada seseorang yang akan bersedia untuk menambal lukamu dengan mengumpulkan kembali pecahan-pecahan kaca itu...

Angin Di Jogja

Duh, hari ini gimana ya rasanya??? Kayaknya ga ada yg spesial dh.... Tapi td wktu naek sepeda, anginnya gede banget... Untung g terbang, hohoho....